Jika berbicara mengenai pemain Real Madrid terbaik
sepanjang masa, maka para penggemar sepakbola tahu bahwa konsensus umum
para fans klub tersebut menyebutkan bahwa Alfredo Di Stefano adalah
sosok yang dianggap the best of all time di klub Ibukota
Spanyol tersebut. Tapi bagaimana jika berbicara mengenai pemain terbaik
Barcelona di kategori yang sama? Kebanyakan orang belum pernah mendengar
nama Laszlo Kubala, apalagi fasih melafalkan namanya.
Apa yang Anda baca tidak salah, pemain terbaik Barcelona sepanjang masa adalah Laszlo Kubala, sesuai dengan polling para penggemar klub tersebut tahun 1999 untuk merayakan 100 tahun berdirinya klub Catalan tersebut. Jika polling tersebut dilakukan sekarang, mungkin Lionel Messi yang akan memuncaki jajak pendapat, tapi gelar kehormatan tersebut masih disematkan pada nama Kubala hingga sekarang.
Lalu apa yang membuat Kubala dianggap sebagai yang terbaik dari yang terbaik di Barcelona? Ia membawa klub tersebut merajai Liga Spanyol di tengah era pemerintahan Franco dan mereka yang gemar sejarah tahu bahwa itu bukanlah sebuah hal yang mudah untuk dilakukan.
Kubala aslinya lahirnya di Hungaria dan bermain untuk klub lokal, Ferencvaros, yang waktu itu adalah klub terbaik di Eropa. Ia kabur ke Cekoslovakia (sekarang Republik Czech) untuk menghindari wajib militer dan bergabung dengan klub Slovan Bratislav, tapi kemudian ia pulang kampung setelah Perang Dunia II usai.
Tapi keadaan setelah perang malah memburuk setelah tirai besi Uni Soviet menutupi Eropa timur. Pada tahun 1948, dengan bantuan teman, Kubala beserta keluarganya diselundupkan menuju Austria di bak sebuah truk petani dan ditutupi dengan terpal sepanjang perjalanan.
Bakat Kubala yang luar biasa menyebabkannya mendarat di Italia dan bermain dengan sesama pemain pelarian dari negara-negara Eropa Timur. Ia mendapat kehormatan setelah Torino –juara Serie A empat kali berturut-turut dan raksasa Italia saat itu– menawarinya trial dan pertandingan yang menjadi kesempatan bagi Kubala adalah partai testimonial melawan Benfica di Lisabon.
Kubala batal berangkat ke Portugal karena harus mendampingi anaknya yang sakit. Tapi pesawat yang membawa skuad Torino itu mengalami kecelakaan dalam sebuah tragedi yang dikenal dengan nama Superga Air Disaster dan menewaskan semua penumpangnya.
Masalah belum selesai menghantui Kubala karena saat ia masih shock seusai kehilangan kesempatan bersama Torino, federasi sepakbola Hungaria memburunya karena melarikan diri dari negara tersebut. Rupanya sebelum ia kabur, Kubala masih mempunyai kontrak bersama klub setempat, Vasas. Hungaria mengultimatum: pulang atau kena sanksi seumur hidup. FIFA memihak Hungaria dan menjatuhi larangan bermain setahun kepada Kubala yang menolak untuk pulang.
Kubala tak ingin kembali ke dalam rezim komunis. Alih-alih pulang, ia malah membeli tiket kereta menuju Spanyol. Pilihannya menuju negara tersebut adalah pilihan logis. Jenderal Franco yang fasis tak akan mengabulkan permintaan ekstradisi dari negara komunis Hungaria. Ia aman di Spanyol.
Pertanyaan selanjutnya adalah di klub mana Kubala akan bermain di Spanyol? Kubala dengan tegas mengatakan kepada Josep Samitier, orang yang membawanya ke Spanyol, bahwa ia ingin bergabung dengan Real Madrid. Kubala bahkan punya perjanjian pra-kontrak dengan Madrid. Tapi Samitier adalah bekas pemain Barcelona dan ia berusaha mengakali agar Kubala bergabung dengan klub Catalan tersebut.
Kubala adalah seorang peminum kelas berat dan konon Samitier mencekokinya dengan alkohol setiba di Spanyol. Kubala mengira ia sedang dalam perjalanan menuju Madrid, tapi ketika tak lagi mabuk, ia mendapati dirinya di Barcelona. Kubala menyanggupi bermain untuk Barcelona asal semua nilai dan syarat dalam perjanjian pra-kontrak dengan Madrid juga dipenuhi. Ini adalah momen langka di mana Barcelona bermain licik untuk menelikung pemain yang diminati Madrid ketika yang lebih sering terjadi adalah sebaliknya.
Ia masih berada dalam sanksi ketika tiba di Barcelona tahun 1951, tapi begitu larangan bermain dicabut, Kubala tak terhentikan. Debutnya adalah melawan Frankfurt dalam dua pertandingan persahabatan di mana ia mencetak enam gol dan lima assist. Begitu ia boleh bermain di kompetisi liga, Barcelona terbang tinggi bersama Kubala.
Dalam periode 10 tahun bersama Barcelona, Kubala membawa klub tersebut empat kali juara liga, lima kali juara Copa Del Generalisimo (padanan Copa Del Rey sekarang), dan dua kali juara Fairs Cup (cikal bakal Europa League). Ini semua dilakukan di era di mana Real Madrid mendapat privilege luar biasa dari pemerintah yang menganggap bahwa klub tersebut adalah mercusuar Spanyol di kawasan Eropa.
Kubala menjadi simbol harapan masyarakat Catalan pada masa di mana identitas dan budaya mereka ditekan oleh pemerintah fasis Franco. Pada masa Kubala juga Barcelona harus pindah stadion agar bisa menampung penonton lebih banyak, dari stadion Les Corts ke Camp Nou.
Ada satu teori yang mengatakan kenapa Kubala dan Barcelona seperti “dibiarkan” untuk berjaya oleh Franco. Narasi seorang pengungsi komunis meraih prestasi di negara fasis sesuai dengan propaganda pemerintah fasis. Secara tidak langsung Franco mendompleng kejayaan Kubala. Tapi masyarakat Catalan tak peduli. Bagi mereka, Kubala mengembalikan kebanggaan yang hilang.
Kubala adalah satu-satunya pemain dalam sejarah sepakbola dunia yang pernah bermain untuk tiga tim nasional. Selain Hungaria, ia pernah bermain untuk Cekoslowakia ketika ia dalam pelarian dan statusnya sebagai pemain naturalisasi menyebabkan ia sah bermain untuk timnas Spanyol.
Satu hal yang aneh dan ironis adalah bagaimana The Magic Magyars, Hungaria di Piala Dunia 1954 yang dipenuhi dengan bintang, seperti Ferenc Puskas, Nandor Hidegkuti, dan Sandor Kocsis, bermain tanpa salah satu pemain besar Tanah Air mereka, Kubala yang sudah pindah kewarganegaraan. Kubala bisa saja bermain melawan Puskas dan kawan-kawan di Piala Dunia jika bukan karena Spanyol kalah lempar koin dalam playoff melawan Turki.
Kubala adalah Lionel Messi-nya Barcelona pada era 50-an. Tak ada yang suka padanya selain masyarakat Catalan yang menganggapnya pahlawan. Maka, ketika Barcelona memilih pemain terbaik sepanjang masa, para fans memastikan mereka tak lupa kepadanya.
Apa yang Anda baca tidak salah, pemain terbaik Barcelona sepanjang masa adalah Laszlo Kubala, sesuai dengan polling para penggemar klub tersebut tahun 1999 untuk merayakan 100 tahun berdirinya klub Catalan tersebut. Jika polling tersebut dilakukan sekarang, mungkin Lionel Messi yang akan memuncaki jajak pendapat, tapi gelar kehormatan tersebut masih disematkan pada nama Kubala hingga sekarang.
Lalu apa yang membuat Kubala dianggap sebagai yang terbaik dari yang terbaik di Barcelona? Ia membawa klub tersebut merajai Liga Spanyol di tengah era pemerintahan Franco dan mereka yang gemar sejarah tahu bahwa itu bukanlah sebuah hal yang mudah untuk dilakukan.
Kubala aslinya lahirnya di Hungaria dan bermain untuk klub lokal, Ferencvaros, yang waktu itu adalah klub terbaik di Eropa. Ia kabur ke Cekoslovakia (sekarang Republik Czech) untuk menghindari wajib militer dan bergabung dengan klub Slovan Bratislav, tapi kemudian ia pulang kampung setelah Perang Dunia II usai.
Tapi keadaan setelah perang malah memburuk setelah tirai besi Uni Soviet menutupi Eropa timur. Pada tahun 1948, dengan bantuan teman, Kubala beserta keluarganya diselundupkan menuju Austria di bak sebuah truk petani dan ditutupi dengan terpal sepanjang perjalanan.
Bakat Kubala yang luar biasa menyebabkannya mendarat di Italia dan bermain dengan sesama pemain pelarian dari negara-negara Eropa Timur. Ia mendapat kehormatan setelah Torino –juara Serie A empat kali berturut-turut dan raksasa Italia saat itu– menawarinya trial dan pertandingan yang menjadi kesempatan bagi Kubala adalah partai testimonial melawan Benfica di Lisabon.
Kubala batal berangkat ke Portugal karena harus mendampingi anaknya yang sakit. Tapi pesawat yang membawa skuad Torino itu mengalami kecelakaan dalam sebuah tragedi yang dikenal dengan nama Superga Air Disaster dan menewaskan semua penumpangnya.
Masalah belum selesai menghantui Kubala karena saat ia masih shock seusai kehilangan kesempatan bersama Torino, federasi sepakbola Hungaria memburunya karena melarikan diri dari negara tersebut. Rupanya sebelum ia kabur, Kubala masih mempunyai kontrak bersama klub setempat, Vasas. Hungaria mengultimatum: pulang atau kena sanksi seumur hidup. FIFA memihak Hungaria dan menjatuhi larangan bermain setahun kepada Kubala yang menolak untuk pulang.
Kubala tak ingin kembali ke dalam rezim komunis. Alih-alih pulang, ia malah membeli tiket kereta menuju Spanyol. Pilihannya menuju negara tersebut adalah pilihan logis. Jenderal Franco yang fasis tak akan mengabulkan permintaan ekstradisi dari negara komunis Hungaria. Ia aman di Spanyol.
Pertanyaan selanjutnya adalah di klub mana Kubala akan bermain di Spanyol? Kubala dengan tegas mengatakan kepada Josep Samitier, orang yang membawanya ke Spanyol, bahwa ia ingin bergabung dengan Real Madrid. Kubala bahkan punya perjanjian pra-kontrak dengan Madrid. Tapi Samitier adalah bekas pemain Barcelona dan ia berusaha mengakali agar Kubala bergabung dengan klub Catalan tersebut.
Kubala adalah seorang peminum kelas berat dan konon Samitier mencekokinya dengan alkohol setiba di Spanyol. Kubala mengira ia sedang dalam perjalanan menuju Madrid, tapi ketika tak lagi mabuk, ia mendapati dirinya di Barcelona. Kubala menyanggupi bermain untuk Barcelona asal semua nilai dan syarat dalam perjanjian pra-kontrak dengan Madrid juga dipenuhi. Ini adalah momen langka di mana Barcelona bermain licik untuk menelikung pemain yang diminati Madrid ketika yang lebih sering terjadi adalah sebaliknya.
Ia masih berada dalam sanksi ketika tiba di Barcelona tahun 1951, tapi begitu larangan bermain dicabut, Kubala tak terhentikan. Debutnya adalah melawan Frankfurt dalam dua pertandingan persahabatan di mana ia mencetak enam gol dan lima assist. Begitu ia boleh bermain di kompetisi liga, Barcelona terbang tinggi bersama Kubala.
Dalam periode 10 tahun bersama Barcelona, Kubala membawa klub tersebut empat kali juara liga, lima kali juara Copa Del Generalisimo (padanan Copa Del Rey sekarang), dan dua kali juara Fairs Cup (cikal bakal Europa League). Ini semua dilakukan di era di mana Real Madrid mendapat privilege luar biasa dari pemerintah yang menganggap bahwa klub tersebut adalah mercusuar Spanyol di kawasan Eropa.
Kubala menjadi simbol harapan masyarakat Catalan pada masa di mana identitas dan budaya mereka ditekan oleh pemerintah fasis Franco. Pada masa Kubala juga Barcelona harus pindah stadion agar bisa menampung penonton lebih banyak, dari stadion Les Corts ke Camp Nou.
Ada satu teori yang mengatakan kenapa Kubala dan Barcelona seperti “dibiarkan” untuk berjaya oleh Franco. Narasi seorang pengungsi komunis meraih prestasi di negara fasis sesuai dengan propaganda pemerintah fasis. Secara tidak langsung Franco mendompleng kejayaan Kubala. Tapi masyarakat Catalan tak peduli. Bagi mereka, Kubala mengembalikan kebanggaan yang hilang.
Kubala adalah satu-satunya pemain dalam sejarah sepakbola dunia yang pernah bermain untuk tiga tim nasional. Selain Hungaria, ia pernah bermain untuk Cekoslowakia ketika ia dalam pelarian dan statusnya sebagai pemain naturalisasi menyebabkan ia sah bermain untuk timnas Spanyol.
Satu hal yang aneh dan ironis adalah bagaimana The Magic Magyars, Hungaria di Piala Dunia 1954 yang dipenuhi dengan bintang, seperti Ferenc Puskas, Nandor Hidegkuti, dan Sandor Kocsis, bermain tanpa salah satu pemain besar Tanah Air mereka, Kubala yang sudah pindah kewarganegaraan. Kubala bisa saja bermain melawan Puskas dan kawan-kawan di Piala Dunia jika bukan karena Spanyol kalah lempar koin dalam playoff melawan Turki.
Kubala adalah Lionel Messi-nya Barcelona pada era 50-an. Tak ada yang suka padanya selain masyarakat Catalan yang menganggapnya pahlawan. Maka, ketika Barcelona memilih pemain terbaik sepanjang masa, para fans memastikan mereka tak lupa kepadanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar